GANGGUAN TIDUR PADA PASIEN POST STROKE
Rinaldi Putra, S.Ked
Mendapat kualitas dan kuantitas tidur yang baik merupakan salah satu bagian penting dalam proses penyembuhan (recovery) post stroke. Namun, gangguan tidur itu sendiri merupakan masalah yang sering muncul pada pasien post stroke. Mengalami gangguan tidur dapat menimbulkan rasa frustasi. Gangguan tidur dapat membuat pasien lelah dah terganggu. Gangguan tidur juga meningkatkan risiko pasien post stroke untuk menderita stroke lainnya (National Stroke Association, 2009)
Sekitar 2/3 dari pasien post stroke memiliki sleep disordered breathing (SDB). Tipe gangguan tidur ini disebabkan oleh pola nafas yang abnormal. Dengan SDB, tidur pasien terinterupsi beberapa kali sepanjang malam. SDB juga menimbulkan risiko yang berbahaya terhadap kesehatan karena dapat meningkatkan tekanan darah, stress jantung dan pembekuan darah (Nationla Stroke Association, 2009)
Ada beberapa tipe SDB, yang paling sering terjadi adalah obstructive sleep apnea (OSA). Pada OSA, pasien dapat berhenti bernafas selama 10 detik atau lebih, dan dapat terjadi beberapa kali selama tidur malam.
Ada beberapa gejala yang menunjukkan seorang pasien memiliki SDB. Beberapa gejala dapat dilihat saat malam hari dan lainnya dapat diamati pada siang hari. Gejala-gejala yang timbul pada malam hari antara lain mengorok, sering terbangun saat malam hari, banyak berkeringat, nafas pendek-pendek dan insomnia. Insomnia didefinisikan sebagai kesulitan berulang dalam memulai tidur, kesulitan untuk tetap tidur saat malam hari, durasi tidur yang tidak adekuat atau kualitas tidur yang buruk, yang menimbulkan gangguan saat beraktivitas siang hari.
Adapun gejala-gejala yang dapat timbul pada siang hari akibat SDB antara lain: